Disclaimer: Ouran High School Host Club © Bisco Hattori
Warning: typo(s), fic untuk sang ibu buat sang anak agar tetap bertahan | Genre: Family and Friendship | Rated: K+ | My story is mine and my inspiration |
Hitachiin twins and Fujioka Haruhi
Enjoy Reading!
.o.O.o.
Gelap...
sangat gelap. Ingin sekali aku keluar dari tempat ini. Keluar dari
kegelapan ini. Aku belum mengatakan pada seseorang paling aku rindukan.
Izinkan aku bertemu dengannya sekali saja sebelum aku pergi.
"Mereka belum sadar?" tanya Haninozuka atau disapa Hani melirik Mori yang tingginya berbeda darinya. Hani duduk di sofa ruangan tersebut, manyun. Ada kesedihan terpampang di wajahnya. "Kalau mereka belum sadar, apa yang terjadi?"
"Mereka pasti sadar. Kita tidak tahu siapa yang mereka tunggu, bukan?" Pemuda berambut pirang tersebut berlutut satu kaki, menghibur Hani. Dia juga sama sedihnya dengan Hani. Untuk menyingkirkan hal-hal negatif, mereka berdoa semoga tidak akan terjadi apa-apa.
Bisa dilihat wajah mereka tertidur terasa begitu menenangkan. Tidak ada lagi kesakitan di tubuh mereka. Tapi, siapa mereka tunggu? Apa mereka menunggu seseorang yang selalu tidak pernah datang mengunjungi mereka? Perasaan mempertanyakan sesuatu, sesuatu yang berbeda dari biasanya.
.
.
Di dalam pikiran mereka yang gelap, ada sebuah dinding berwarna hitam. Dinding yang kasat mata. Seperti cermin gelap, tapi bisa memantulkan bayangan. Pemuda berambut cokelat jingga ini berjalan tiada henti. Langkahnya terus melangkah ke arah lurus, namun tidak ada satu pun dia temukan. Rasa takut membumbungnya. Ingin sekali dia menghilangkan ketakutan ini dan keluar dari gelapnya dinding mengerikan tersebut.
"Kaoru ada di mana? Aku takut pada kegelapan ini," kata Hikaru memeluk tubuhnya memakai kedua tangan. Mengusap-usapnya. Napasnya berbentuk sebuah asap, rasa dingin mencuak. Tempat ini dingin, tapi tidak ditemukan tanda kehidupan.
Hikaru memandang cermin, mencari pintu keluar. Saat maju ke depan, dia melihat sosok pemuda berambut sama dengannya berdiri menengadahkan tatapannya ke langit. Hikaru berlari menghampirinya, namun dia malah menabrak dinding tidak kasat mata tersebut.
Dia terjatuh dan bangkit lagi. Hikaru menggedor-gedor dinding tersebut dan memanggil saudara kembarnya, "Kaoru! Kaoru! Kumohon dengarlah aku! Jangan tinggalkan aku di sini!"
Kaoru tidak mendengar suara apa pun di sekitarnya. Dia menurunkan kepalanya terus merunduk. Sekelilingnya penuh dengan kegelapan. Kakinya sudah berselimut kegelapan mengerikan. Hikaru melihatnya jadi takut dan terus menghancurkan dinding hitam tersebut.
Putus asa? Haruskah dia putus asa dan membiarkan Kaoru pergi? Hikaru tidak punya siapa-siapa lagi selain Kaoru. Ibu dan ayah tidak pernah memikirkannya. Setiap hari Kaoru menjaganya begitu sebaliknya, jadi izinkan dia untuk menyelamatkan saudara satu-satunya tersebut. Hikaru tidak punya tenaga lagi. Ingin sekali berdiri, tapi tetap tidak bisa.
"Hei!" suara terdengar familiar. Hikaru menoleh ke sosok tidak asing baginya. Sosok berdiri di ambang kegelapan menampilkan ekspresi biasa. Auranya penuh semangat membangkitkan keinginan pemuda berambut cokelat jingga ini. "Janganlah engkau lupa bahwa masih ada teman-teman mendukungmu! Jangan putus asa. Raihlah apa pun keinginanmu! Dan jangan pernah menyerah, Hikaru!"
"Ha-Haruhi..." Hikaru berdiri dan menatap gadis berambut hitam pendek tersenyum padanya. Haruhi tersenyum dan mengangkat mengarah pada Kaoru yang akan tenggelam bersama kegelapan. Punya ide cemerlang, Hikaru membayangkan sesuatu yang cocok untuk menghancurkan dinding tersebut. "Tunggulah aku, Kaoru."
Hikaru mencari-cari sesuatu di tengah kegelapan ini. Tapi, tidak menemukannya. Haruhi mendekat. "Untuk menyelamatkan seseorang dibutuhkan perjuangan. Yang harus Hikaru punya adalah kasih sayang dan cinta. Jika Hikaru memilikinya, semua baik-baik saja."
Sekarang dia tahu. Hanya cinta dan sayang bisa menghancurkan segalanya. Hikaru berdoa semoga harapannya terkabul. Kedua tangan Hikaru menyentuh dinding tersebut, berdoa di dalam hati agar bisa bertemu langsung dengan saudaranya. Dia sayang pada saudaranya, dia cinta dengan Kaoru Hitachiin. Izinkanlah dia tetap bersama sampai ke tempat yang ditentukan.
Dinding tersebut retak dan hancur berkeping-keping. Hikaru jatuh ke depan, tapi bisa mengatasinya. Dia berlari mendekati Kaoru sudah diselimuti kegelapan pekat. Diulurkan tangannya dan memeluk tubuh Kaoru hingga mereka berdua terjatuh bersama-sama. Kegelapan tadi menyelimuti Kaoru, menghilang dalam sekejap.
"Kaoru! Syukurlah kamu selamat!" pelukan erat untuk sang saudara membuatnya bersyukur. Bersyukur pada Tuhan karena bisa bersama dengan Kaoru.
"Hikaru? Kenapa kamu ada di sini?" Kaoru mengangkat alisnya bingung, mengawasi tingkah aneh Hikaru. Tapi, melihat keadaan Hikaru yang khawatir. Kaoru membalas pelukannya. Senang melihat saudaranya ada di sini, bersamanya. "Aku ada di sini, Hikaru. Sekarang aku baik-baik saja."
Pelukan itu terus berlanjut. Tiba-tiba dinding di sekitar mereka retak. Rasa hangat muncul dan menampakkan secercah cahaya membuat mata menyipit. Tubuh mereka tidak lagi dingin, tapi merasakan kehangatan genggaman tangan seseorang paling dirindukannya.
"Ibu mohon, bangunlah kalian berdua. Jangan tinggalkan ibu di sini, di dunia ini..."
Mereka berdua beradu pandang. Saat Haruhi mendekati mereka, Haruhi menyuruh mereka kembali ke dunia di mana mereka masih membutuhkan dan memperbaiki semuanya.
"Aku bersama kalian. Jadi, tidak apa-apa," ucap Haruhi. Tubuhnya menghilang.
Mereka pun sadar, masih banyak membutuhkan mereka. Teman-teman. Sahabat-sahabat. Dan juga keluarga. Mereka tidak akan lagi putus harapan. Masih ada harapan positif di benak mereka. Biarkanlah itu terjadi sampai akhir di mana mereka berpisah.
.
.
Ruangan rawat, keempat pemuda melihat seorang ibu menggenggam kedua tangan buah hati secara bersamaan. Mereka berempat melirik ke arah Kaoru dan Hikaru yang masih belum bangun juga dari tadi. Mereka takut jika Kaoru dan Hikaru belum bangun-bangun juga.
Genggaman tangan keduanya bergerak bersamaan. Sang ibu merasakan keduanya bergerak menggeliat. Dia menatap kedua putranya, berharap mereka bangun dan memanggilnya, "Ibu..."
"Oh, sayang..." bulir air mata keluar dari pelupuk mata. Dia menatap keduanya bergantian dan memeluk kepala mereka dan mencium tangan mereka satu per satu. "Akhirnya kalian bangun juga. ibu sangat mengkhawatirkan kalian. Apa kalian sudah merasa sehat?"
Kaoru dan Hikaru beradu pandang dan tersenyum menatap ibunya. Rasa sakit tidak menjalar di tubuh mereka lagi. Mereka bisa tersenyum karena sang ibu ada bersama mereka lagi. "Kapan ibu pulang? Dan di mana ayah?"
"Ayah ada di sini anak-anakku," sang ayah masuk ke tengah dan membelai rambut mereka juga bergantian. Rasa syukur melihat sang ayah lagi dan sang ibu begitu pula sebaliknya, berpikir masih ada harapan. Harapan yang bisa maju dan memperbaiki hal-hal telah rusak.
.
.
Pemandangan di dalam ruang rawat ini mengundang haru dan tangisan. Mereka menangis dalam hati. Mereka keluar secara sembunyi-sembunyi agar tidak merusak momen bahagia ini. Saat menutup pintu, mereka berempat melihat Haruhi tersenyum kepada mereka bersama Kasanoda.
"Akhir yang indah," Haruhi menyeka air matanya memakai jari telunjuknya. "Apa kalian tahu apa arti 'coma'?"
"Bukankah arti tersebut mengatakan tentang kalau sudah menjalankan operasi, kita akan mengalami koma, bukan? Misalnya tidur dalam keadaan tidak sadar melainkan jiwa kita berada di tempat lain. Tidak bisa bangun," jawab Hani berada di pundak Mori menjawab pertanyaan gadis berambut hitam pendek tersebut.
"Salah." Haruhi menggeleng lepas. "Koma adalah sebuah adalah tanda baca yang memiliki bentuk mirip apostrof atau tanda petik tunggal tapi diletakkan di garis dasar teks. Beberapa jenis huruf menggambarkannya sebagai suatu garis kecil yang agak melengkung atau kadang lurus, atau seperti angka sembilan yang diisi bagian lubangnya.. Koma bisa melanjutkan biarpun di pertengahan putus asa. Tapi, sekali dilanjutkan pasti akan berakhir dengan titik. Koma-lah menjadi penentu kita mau berusaha atau tidak. Itu kata orang lho. Terinspirasi dari sepupu."
Mereka berempat memiringkan kepalanya, sedangkan Haruhi melegakan perasaannya setelah mengutarakan tanda (,) tersebut. Dia berjalan melihat pemandangan itu lagi. Melihat keakraban Hikaru dan Kaoru bersama orang tuanya membuat tersenyum.
"Ini adalah harapan yang dulunya putus. Semoga ke depan kalian bisa memperbaikinya. Untukku juga dan sepupuku." Haruhi berbalik badan dan berlalu pergi bersama Hani, Mori, Kyoya, Kasanoda dan Tamaki.
.
.
Di kamar rawat Hikaru dan Kaoru yang tertidur, sang ibu melihat sang anak kembarnya menatap penuh haru. Sudah lama sekali dia melakukan itu, memeluk mereka dan mencium mereka. Mulai sekarang, apapun yang terjadi kalian adalah nyawa ibu.
Kasih sayang dan cinta dapat membawa kita menuju cahaya. Tidak ada seorang pun ibu meninggalkan kita.
Ibu, biarpun ibu meninggalkan kami. Kami akan mencintai ibu untuk selamanya. Ibu selalu ada di hati kami untuk selamanya. Harapan kami adalah tetap bersamamu biarpun ada di dalam hati. I Love U, Mom and Dad.
The End
Thanks to reading!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar