Life Of Happiness
Disclaimer: Gakuen Alice belong to Higuchi Tachibana
Warning: OOC, deskripsi seadanya. Story and OC (original character) is mine
Genre: Romance, Family, Crime and Friendship
The Past Part II
Paginya
Festival perayaan besar-besaran merupakan festival ulang
tahun persahabatan perusahaan yang ke-12 tahun telah di tunggu-tunggu oleh
keluarga-keluarga besar dan masyarakat penduduk kota Tokiyo. Banyak orang-orang
berdatangan ingin melihat parade festival ini. Semuanya berkumpul di alun-alun.
Banyak polisi juga menjaga dan mengawasi setiap detik festival ini agar tidak
terjadi hal yang tidak diinginkan.
Festival ini akan berlangsung sampai sore sedangkan acara
malam adalah acara salam-salaman dan acara kekeluargaan (maaf, bahasa aneh),
acara malam nanti akan diadakan di gedung keluarga tamu undangan yang akan
datang malam ini adalah sederet aktor-aktris terkenal di dunia, para mitra
bisnis, pejabat-pejabat dan lain-lain.
Mungkin, akan ada bahaya yang mendatangi malam ini
merupakan malam neraka bagi semuanya, bahaya yang tak terduga.
Dalam gedung perusahaan Nogi
Natsume, Aoi, Ruka, Yoichi dan Hotaru melihat acara
festival yang diadakan oleh keluarga mereka melalui jendela kaca besar gedung
tinggi. Parade-parade festival (seperti parade Gakuen Alice waktu festival
Alice atau Disneyland) yang luar biasa. Mereka datang ke tempat ini tanpa Mikan
karena Mikan harus dilarang datang ke tempat itu karena terlalu berbahaya.
Aoi melihat parade dari ketinggian gedung melalui kaca
jendela besar. Perusahaan ini milik keluarga Nogi. "lihat di bawah sana,
bukankah itu luar biasa..! Lalu, kenapa kita tidak boleh melihat dari
dekat?" tatap Aoi melihat kakaknya.
"Itu tidak mungkin, Aoi-chan. Itu karena orang tua
kita melarang kita ke sana," kata Ruka memberikan pengarahan.
Aoi melihat Ruka dan berkata mengagukkan kepalanya,
"Oohh.. begitu, ya? Tapi, kasihan Mikan-chan tidak datang. Apa dia
baik-baik saja, Ru-chan?"
"Yahh.. dia baik-baik saja, Aoi-chan.." dengan
tampang sedih Ruka membalikkan kepala menatap ke luar jendela.
Natsume pergi meninggalkan tempat mereka berdiri. Ini
membuat Ruka dan Yoichi melihat Natsume dengan bingung.
"Mau ke mana, Natsume?" tanya Ruka mengikuti
Natsume.
"Aku mau keluar. Bukankah mereka sudah datang, aku
mau melihat mereka," balas Natsume. Membuka pintu dan keluar disusul Ruka
dan Yoichi. Sedangkan, Hotaru dan Aoi hanya berdiri menatap mereka pergi.
"Kakak, kenapa sih? Setiap membicarakan Mikan-chan,
kakak selalu kabur. Aku tahu kalau kakak mengkhawatirkan Mikan-chan tapi kakak
harus memberikan penjelasan." Aoi bingung atas kelakuan kakaknya, Natsume.
Hotaru menghela napas, "itu adalah wujud orang yang
kesepian, Aoi-chan. Mikan yang sendirian tidak ada yang menemani hanya memiliki
lima orang dewasa dan dua kakak. Mikan pasti kesepiannya sama dengan
Natsume." Menatap di luar jendela dengan wajah tanpa ekspresi.
"Ooohhh.. Begitu, ya? Hotaru-chan, apa kamu mau ikut
bersamaku bertemu mereka menyusul kakak, Ru-chan dan Yo-chan?" tanya Aoi
menatap Hotaru.
"Tidak Aoi, aku mau di sini melihat festival,"
jawab Hotaru tidak berpaling dari kaca jendela.
"Baiklah.. kalau begitu aku akan pergi menyusul
kakak. Bye, Hotaru-chan.." Aoi pergi meninggalkan Hotaru yang sendirian di
tempat menonton parade.
Hotaru melihat bayangan Aoi pergi melalui sisi kaca
jendela yang terpantul. Menghela napas sekali lagi, 'kamu tidak akan tahu Aoi
tentang kakakmu karena Natsume tidak pernah menyukai Mikan. Biarpun paman Ioran
dan bibi Kaoru menghubungkan mereka. Tetap saja, Natsume tidak menyukai Mikan
karena Natsume menyukai Luna Koizumi sejak pandangan pertama mereka bertemu.
Mikan-lah yang menyukai Natsume.' Memandang ke atas dengan muka kesedihan,
Hotaru menutup matanya dan berbisik dalam hati, 'semoga saja Natsume bisa
melihat Mikan sebagai seorang cewek yang baik bukan Mikan yang jelek. Suatu
saat nanti Natsume pasti akan menyesal tidak memilihnya.'
~ Natsume ~
Aku, Ruka, Aoi dan Yoichi memasuki ruangan pribadi di
mana anak-anak perusahaan keluarga datang. Aku melihat mereka semuanya kemari
menghampiri kami berempat dan menyambut kami.
"Hi, guys!" seru Koko semangat, anak laki-laki
berumur 8 tahun rambut pirang berantakkan dengan bola mata kuning.
"Hei.. Natsume.. Ruka.. Yoichi.. Aoi-chan.. apa
kabar?" Kitsune-me, Yuu dan Mochi menyapa kami dan menghampiri kami dengan
wajah tersenyum. Kitsune-me saudara kembar Koko, mata menyipit. Yuu Tobita (9
tahun), anak laki-laki berambut hijau, berkacamata dan bola mata kuning
kecokelatan. Dan Mochu Mochiage (9 tahun), botak warna rambut hitam dan bola
mata biru kehitaman
"Hi, kalian berempat! Sudah lama tidak ketemu,"
seru Anna dan Nonoko. Anna Umenomiya, anak perempuan berumur 9 tahun berambut
merah muda, bola mata merah muda dan Nonoko Ogasawara, anak perempuan berumur 9
tahun berambut hitam, bola mata biru. Mereka adalah sepupu.
Ruka balas tersenyum pada mereka, sedangkan aku dan Yoichi
hanya mengangguk pelan.
Sedangkan Sumire melihat keanehan di sekitar kami
berempat mereka bertanya, "dimana Hotaru? Kenapa dia tidak ada?"
mencari-cari di sekeliling kami.
"Hotaru-chan tidak datang ke sini karena dia masih
mau melihat parade," jawab Aoi.
Sumire diam hanya bergumam 'hmm'. Lalu, dia berseru
dengan gembira dan penuh semangat, "kalian sudah lihat parade tadi di
luar, belum? Sangat mengasyikkan dan mendebarkan. Inilah perusahaan terbesar
kita semua 'kan? Ha ha ha ha!" Sumire ketawa pada kami semua. Yang lainnya
hanya terkikik geli pada sifat Sumire yang aneh.
Sumire Shouda (9 tahun), anak perempuan berambut hitam
kehijauan dengan ujung rambut keriting perm, bola mata biru tua.
Mereka semua adalah anak-anak dari sahabat-sahabat
keluarga kami. Juga salah satu kesepuluh keluarga perusahaan yang terkenal di
negara kami. Mereka juga adalah teman-teman kami yang berharga.
Aku berjalan masuk ke tengah ruangan untuk mencari tempat
duduk sambil memasukkan kedua tanganku ke saku celana. Aku duduk di sofa
diikuti ole Koko, Yoichi, Kitsune-me dan Mochu. Ruka dan yang lainnya masih
membicarakan sesuatu hal tentang festival.
"Hei, bro.. kenapa mukamu kusut sekali? Ada
apa?" tanya Koko padaku. Aku tidak menjawab apa-apa.
Koko, Kitsune-me dan Mochu hanya melihatku memandang satu
sama lain lalu menggelengkan kepalanya bingung dan mereka pergi meninggalkan
aku dan Yoichi. Mereka bertiga pergi ke tempat teman-teman yang lain sedang
mendengarkan tentang acara festival sampai sore dan tertawa. Aku menghela napasku
menatap mereka sedang tertawa keras. Aku menghela napasku sekali lagi melihat
kesunyianku ini.
Yoichi menatapku dan berkata, "Ada apa denganmu,
Natsume?" bingung dengan cara menghela napasku kedua kalinya. Aku tidak
memandang Yoichi malah aku mengangkat kedua kakiku ke atas meja di dekatku.
Yoichi berbisik di sampingku sambil memandangku, "Apa karena tidak ada
Mikan.." kugelengkan kepalaku, "..atau Luna?" mataku melebar
pada ucapan Yoichi. Yoichi menyeringai bersandar di sofa dekatku dan berbalik
memandang teman-teman kami, "aku tahu kamu bukan memikirkan Mikan tetapi
Luna. Aku tahu perasaanmu pada Luna karena dia cantik beda dengan Mikan yang
culun, jelek dan bodoh. Tetapi, kamu sudah bertunangan dengan Mikan bukan
dengan Luna. Kamu harus mengerti itu, Natsume." Yoichi menolehkan
kepalanya menatapku lagi yang tidak merubah posisi duduknya.
"Hn.. ternyata kamu tahu perasaanku pada Luna,
ya?" tanyaku memandang Yoichi lalu berbalik ke arah depan. Kulihat Yoichi
mengangguk dari sisi mataku, "aku menyukai Luna sejak umur 7 tahun. Aku
menyukainya atas dasar suka dan untuk Mikan suka atas dasar teman bukan sebagai
kekasih."
"Jadi, kamu akan menolak pertunangan yang di buat
oleh paman dan bibi, dan meminta mereka untuk menunangkanmu dengan Luna? Itu
mustahil, Natsume." Aku memandang Yoichi dengan muka tanpa ekspresi.
Dengan jengkel kumeninggikan suaraku, "tidak ada
yang tidak mungkin untukku, Yoichi. Aku pasti akan meminta orang tuaku
memutuskan pertunanganku dengan Mikan dan kalau sudah besar, aku akan meminta
mereka untuk mengijinkanku menikah dengan Luna."
"Tapi, bagaimana perasaan Mikan? Kukira Mikan
menyukaimu Natsume sebagai seorang laki-laki. Tidakkah kamu akan menyakiti
perasaannya?" tanya Yoichi memandangku tidak percaya pada keputusanku. Aku
dapat mendengar dari sisi sebelah mataku melihat mata kekhawatiran Yoichi kalau
menyangkut Mikan.
Aku tahu kalau Yoichi menyayangi Mikan. Bukan sebagai
laki-laki menyukai anak perempuan, karena Yoichi menyayangi Mikan seperti
saudara sama seperti Ruka dan Hotaru.
Aku memandang kembali Yoichi dengan mendengus, "aku
tidak peduli tentang perasaan Mikan. Yang kupedulikan adalah perasaan Luna
karena aku sudah berjanji padanya untuk menikahinya kalau sudah besar nanti.
Terserah padamu, Yoichi. Kalau kamu tidak mau menyetujuiku, terserah. Tidak
usah pedulikan aku!" Aku beranjak dari tempat dudukku di sofa dan berjalan
menuju pintu keluar. Kulihat teman-teman menatapku dengan pandangan bingung dan
cemas. Aku tahu apa yang dipikirkan mereka karena mereka melihatku bicara keras
Yoichi tadi.
Sebelum aku pergi, aku bisa mendengar Yoichi berteriak
padaku, "baik! Aku tidak akan mengganggu keputusanmu! Tapi, kamu akan
menyesal Natsume telah meninggalkan Mikan. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan
menyesal mengambil keputusan ini, Natsume!"
Aku membanting pintu dengan keras dan meninggalkan
ruangan itu lalu pergi ke ruangan pribadiku di perusahaan Nogi.
Ruka mengikutiku dan bertanya, "ada apa Natsume? Apa
yang terjadi? Kenapa kamu Yoichi memarahimu yang berhubungan tentang
Mikan?" memposisikan jalannya di sampingku menuju ruangan pribadiku.
Setelah aku dan Ruka sampai ke ruangan pribadi, aku meminta Ruka menutup pintu
dan menguncinya.
Ruka Nogi adalah sahabat sejatiku yang selalu menemaniku
kemana aku pergi. Ibunya Ruka berteman dengan ibuku waktu kuliah dulu di
French. Jadi, aku mengenal Ruka waktu umurku 3 tahun pada waktu acara ulang
tahun Aoi yang pertama.
"Bukan apa-apa, Ruka. Itu bukan urusanmu,"
jawabku sambil mencari tempat duduk yang nyaman. Ruka juga mengikutiku menghela
napas.
"Aku tahu masalahmu Natsume sejak Luna Koizumi
datang di kehidupan kita." Aku memandang Ruka dengan mata melebar. Aku
tidak menyangka Ruka tahu posisi masalahku.
Aku duduk di sofa kesayanganku yang warna hitam,
menyilangkan kedua kakiku dan menyandarkan kepalaku dengan kedua tanganku,
"jadi, apa kamu juga tidak menyetujui rencanaku untuk menikahi Luna?"
Aku menyeringai menatap Ruka.
Ruka duduk di sampingku, menaruh kelinci kesayangannya ke
lantai berkarpet memulai berbicara padaku, "tidak. Hanya saja aku ingin
menasehati kamu, Natsume. Janganlah kamu lupa janji kita bertiga untuk menjaga
Mikan dan melindunginya. Janji kita buat bersama dengan Hotaru. Kamu tidak lupa
pada janji itu 'kan, Natsume?"
"Aku tidak lupa janji itu, Ruka."
"Tapi, kenapa kamu mau membuat resiko untuk menikahi
Luna? Kita belum tahu Luna itu siapa. Kita baru mengenalnya 2 tahun yang lalu.
Baru beberapa hari dia tinggal di sini, dia balik ke Moscow." (maaf,
negara semuanya kujadikan bahasa Inggris :D) Ruka menatapku menggelengkan
kepalanya menatapku tidak percaya.
"Apakah kamu tidak tahu cinta pada pandangan
pertama, Ruka?"
Cinata pandangan pertama, cinta pandangan pertamaku
adalah Luna bukan Mikan. Aku pertama kali melihat anak perempuan secantik Luna
Koizumi sewaktu sebuah acara ulang tahun ayahku, Ioran Hyuuga.
Aku belum pernah melihat anak perempuan secantik itu.
Rambut merah muda panjang sebahu, wajah cantik (di sini umur 7 tahun Luna belum
memakai make up yang menor), kulit mulus, bola mata ungu, dan ada tahi lalat
sebelah kanan di bawah bibirnya yang merah muda. (Natsume lebay. ((^ _^)) )
Saat itulah, aku menepati janjiku padanya akan
menunggunya dan menikahinya kalau sudah besar nanti. Sedangkan Mikan hanya
pengganggu hidupku, sudah jelek, idiot, dan berkacamata tebal. Pertama kali aku
melihat Mikan saat umurku 4 tahun, itulah pemikiranku untuknya.
Aku tidak mau menikahi dengan perempuan jelek. Bagaimana
hidupku nanti menikah dengan orang jelek. Bukannya aku meragukan Mikan, hanya
saja setiap kali kuminta dia membuka kaca matanya, dia selalu melarangku.
Begitu seterusnya, sampai-sampai membuat sangat jengkel. 'Bilang saja, kalau
wajahmu jelek.' (Dasar Natsume menyebalkan!)
"Ini bukan soal cinta pada pendangan pertama.
Bagaimana perasaan Mikan yang sebenarnya padamu? Kamu akan menyakitinya secara
fisik?" Ruka memandangku lagi dengan nada sedih.
Aku menoleh memandang Ruka dan berteriak,
"keputusanku sudah bulat, Ruka! Jangan kamu merubah keputusanku ini!"
Inilah pertama kalinya aku berteriak pada Ruka, sahabatku.
Ruka terkejut akan kata-kata keras padanya. Ruka beranjak
dari sofa duduknya mengambil kelinci kesayangannya muka marah menuju pintu
keluar. Membuka pintu lebar, sebelum menutup pintu Ruka berbalik memandang ke
arahku, "oke, Natsume! Kalau itu keputusanmu, aku tidak akan menghalanginya.
Ingatlah perkataanku ini Natsume, apabila suatu saat nanti kita sudah dewasa
dan semuanya berubah. Jangan pernah menyesal!" Ruka keluar dan membanting
pintu sangat keras.
"Hn. Terserah," kataku. Lalu aku pun tertidur
di sofa. 'Aku takkan pernah menyesal atas pilihanku, Ruka. Tidak akan,' bisikku
dalam hati.
Markas Death
"Semuanya sesuai dengan rencana, kita akan memasang
bom di tempat tersebut. Kita akan membuat mereka saling menyalahkan sesuai
rencana bos besar kita," tukas laki-laki rambut panjang sebahu warna
pirang pada seorang laki-laki berambut berantakkan kuning dengan hitam di sisi
rambut.
"itu sangat hebat, Rui. Kapan akan di mulai acara
ini? Aku benar-benar ingin menyaksikan kesedihan mereka secepatnya," ucap
Hayate dengan nada tidak sabar.
"Tenanglah. Tinggal menunggu perintah dari Persona
baru kita akan memulainya. Benar 'kan, Yakumo?" tanya Rui menoleh
laki-laki tinggi berbaju hitam di samping kirinya. Seorang laki-laki berumur 17
tahun berambut hitam dengan perban setengah menutup wajahnya.
"Hn"
Setelah itu, Reo dan Persona mendatangi mereka bertiga.
Rui dan Hayate melihat dan memandang mereka dengan wajah tersenyum menyeringai.
Itu artinya acara ini akan di mulai sekarang. Dan Yakumo hanya memandang dengan
wajah tanpa ekspresi
"Ayo, sudah waktunya kita pergi. Tuanku sudah
berpesan untuk menghancurkan tempat itu beserta isinya." Persona
memandangi mereka memberikan perintah dan menyuruh mereka memanggil kelompok
lainnya untuk pergi ke acara tersebut. Mereka semua mengangguk dan pergi menuju
mobil van putih dan hitam yang sudah tersedia di garasi mereka.
'Sebentar lagi mereka akan mati. Mati membusuk seperti
orang tua kami. Balas dendam orang tua kami akan terwujud malam ini, Hihihihi.'
bisik Reo dalam hati tersenyum keji lalu menyusul mereka menuju ke mobil van
diikuti oleh Persona.
Malamnya
Di gedung pribadi milik keluarga Hyuuga
Time : 20:00:00
Malam hari membuat sekelompok mobil mewah berhenti di
gedung milik keluarga Hyuuga. Orang-orang berdatangan dan keluar dari mobil
mereka dengan memakai gaun pesta yang glamor dan toksedo untuk acara khusus
ini. Banyak wartawan memotret sederet orang-orang terkenal seperti aktris-aktor
terkenal, pejabat-pejabat, dan tokoh-tokoh besar yang terkenal di seluruh
dunia.
Karpet merah yang membawa mereka ke tempat acara
tersebut. Ruangan ala Europe penuh dengan warna merah keemasan. Warna
menunjukkan arti keberanian dan kekuasaan milik keluarga Hyuuga.
Banyak meja bundar diisikan oleh sekelompok orang
terkenal. Makanan-makanan yang disajikan di meja tertentu, makanan terkenal di
penjuru seluruh dunia. Pelayan-pelayan yang menghampiri meja mereka semua untuk
menuangkan minuman, Chef dan Pattisier keluar dari dapur juga menyajikan
makanan super mewah dan makanan penutup ke meja bundar mereka.
Ioran Hyuuga naik ke panggung dan mengambil mikrofon,
"Selamat datang para undangan di acara yang sudah di tunggu-tunggu ini
oleh kita semua. Acara pesta Ulang tahun Perusahaan Persahabatan yang ke-12
tahun. Terima kasih telah datang ke tempat ini. Semoga kalian bisa bersenang-senang
dan menyantap makanan kami yang telah kami sediakan. Semoga kalian menyukainya.
Terima kasih."
Ioran turun dari panggung dan memerintahkan para orkestra
untuk membawakan lagu slow. Ioran bergabung dengan keluar-keluarga sahabatnya
di sisi ruangan.
Semua para undangan tersenyum dan bertepuk tangan. Mereka
menghampiri keluarga Hyuuga, Nogi, Imai, Shouda, Yome, Ogasawara, Tobita,
Umenomiya, Mochiage, dan Hijiri. Para undangan bergantian menjabat tangan
kesepuluh keluarga tersebut untuk memeberi selamat.
Setelah itu, para undangan kembali ke tempat duduk
mereka, ada yang juga pergi ke bar untuk pesan minuman.
Tapi, diantara para undangan ada penyusup yang siap akan
menghancurkan keluarga tersebut. Dia adalah Reo Mouri seorang penyanyi terkenal
sekaligus anggota mafia Death. Tidak ada yang tahu soal status Reo yang
sebenarnya karena itu sangatlah rahasia dan tidak pernah dipublikasikan oleh
masyarakat. Karena ada seseorang di belakang layar yang mengatur semuanya tidak
lain adalah keluarga Koizumi.
Reo Mouri melihat keluarga itu menyeringai, 'jadi,
keluarga itu tidak ada ya? Hmm.. berarti ada di ruangan lain di gedung ini. Aku
harus menghubungi Persona bersiap-siap untuk langkah selanjutnya'. Reo
mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke Persona.
'Sudah saatnya aku harus keluar dari sini untuk. Hayate,
Rui dan Yakumo pasti sekarang berada di atas gedung ini untu menaruh bom itu.'
Reo beranjak dari kursinya diikuti dua temannya yang merupakan kaki tangannya
dan manajernya menuju pintu keluar.
Sesaat Reo keluar, ada seorang yang mengetahui rencana
yang disusun Reo. Dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke sepupunya
untuk menjaga mereka di ruangan tersebut. Setelah itu, dia mencari seseorang
dan melihatnya yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia menghampirinya dan
memberitahukan rencananya. Temannya menganggukkan kepalanya dan pergi. Dia lalu
mengikuti Reo diam-diam.
Time : 20:30:00
Di tempat rahasia di gedung ini, Hayate, Rui, Yakumo dan
sekelompok orang lainnya berpakaian pelayan dan office boy menuju tempat yang
telah di tuju yaitu lantai 15 gedung ini dimana keluarga itu berada. Sesuai
informasi yang didapat Persona, ketua mereka.
Setelah masuk ke dalam lift barang, mereka menekan angka
lantai 16 di atas lantai 15 karena mereka akan memasang bomnya di lantai
tersebut.
TING
Mereka keluar dan berpencar. Rui dan Yakumo pergi ke arah
sebelah kiri sedangkan Hayate dan sekelompok orang lainnya ke arah sebelah
kanan.
Hayate dan kelompoknya membawa dua tas yang berisi bom
yang akan ditaruh di ruangan atas agar sejajar dengan ruangan di bawah
tersebut.
Setelah selesai memasangnya, mereka menempati bom satu
lagi untuk jaga-jaga di ruangan yang lain. Lalu, mereka pergi kembali ke bawah
dan mengirimkan pesan ke Persona berisi huruf 'SUKSES'.
Sedangkan Rui dan Yakumo, memasang alarm waktu otomatis
agar para undangan segera keluar. Jika mereka semua keluar, maka bom otomatis
itu akan berfungsi. Rui memasang di setiap ruangan. Dan Yakumo memasangnya di
bawah karpet merah agar tidak ketahuan. Alarm waktu akan berbunyi dengan sangat
nyaring kurang lebih 30 detik lagi.
Rui menganggukkan kepala sekali kepada Yakumo pertanda
tugas selesai. Rui dan Yakumo masuk kembali ke lift barang. Rui mengirim pesan
pada Persona melalui ponselnya bertuliskan 'SELESAI'. Sebelum lift sepenuhnya
tertutup, di situlah Rui menyeringai keji.
Di luar gedung depan pintu Utama keluarga Hyuuga
Time : 20:45:00
Di mobil van putih, Persona mendapat dua pesan dari
Hayate dan Rui. Dia tersenyum keji setelah membacanya. Lalu dia mengirim pesan
ke Reo kalau rencana kedua selesai. Berarti tinggal finalnya. Sesudah final
misi strategi berhasil dan berjalan lancar.
Persona menyuruh pengemudi mobil menyingkir dari tempat
ini agar tidak di ketahui orang lain yang melihatnya. Dan menjemput mereka
semua di gang belakang gedung ini yaitu gudang barang.
Setelah mobil van melaju pergi meninggalkan gedung,
seorang laki-laki berlari keluar dari gedung dan melihat mobil van putih
mencurigakan pergi. Dia mengambil ponsel di sakunya dan menelepon seseorang
yaitu tunangannya, Misaki Harada.
"Halo, Tsubasa," jawab Misaki di jalur lain.
"Misaki, kamu harus membawa mereka keluar dari
gedung ini jangan sampai orang-orang itu menemukan mereka. Mengerti!"
Sebelum Misaki berbicara, laki-laki berambut hitam itu menutup panggilannya dan
menaruh kembali ke saku celananya dan menuju ke ruang pesta. Orang itu adalah
Tsubasa Ando.
Kembali di dalam gedung
Time : 21:00:00
Di ruangan tersebut, para undangan sedang
bersenang-senang dengan riang di meja masing-masing, ada yang makan, ada yang
berdansa dan ada juga yang berkumpul ke arah sepuluh keluarga tersebut.
RRRRRIIIIIINNNNGGGG
Suara yang mirip alarm menggelegar mengguncang para tamu
undangan tersebut begitu pula dengan kesepuluh keluarga. Mereka semua kaget dan
berlari keluar dari gedung. Keluarga-keluarga juga berlari keluar membawa
anggota keluarga mereka untuk keluar dari gedung.
Sementara semua para undangan dan keluarga keluar dari
gedung, Reo dan dua temannya pergi mencari pintu keluar untuk penyimpanan
barang tetapi dihadang oleh laki-laki rambut pirang ditemani oleh beruang
kecil, boneka tercanggih buatan keluarga Sono dan Ren Yukihira. Mereka berdua
adalah Kaname Sono dan Mr. Bear. Akhirnya Reo dan kedua rekannya berhenti
berjalan.
"Mau ke mana kalian? Apa kalian mau melarikan diri
setelah kalian melakukan rencana tersebut?" tanya Kaname meregangkan kedua
tangannya untuk menghalangi mereka bertiga. Sedangkan Mr. Bear memasang
kuda-kuda bela diri.
"Tch. Sono, ya. Maaf saja semuanya sudah diatur dari
tadi sebelum bunyi ini dimulai," ucap sang penyanyi terkenal berambut
merah pada Kaname. Sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan
memiringkan kepalanya. Tersenyum keji.
Mata Kaname melebar tidak percaya, "itu tidak
mungkin. Itu berarti.." Kaname menggelengkan kepala tidak percaya pada
kata-kata Reo.
"Yah.. Mereka semua akan mati di sana. Saat semua
orang keluar dari gedung ini. Ha ha ha ha!" tawa Reo. "Oh.. Aku lupa
kamar itu sekarang di kunci oleh teman-teman kami lho," kata Reo
melanjutkan.
Kaname melihat tawa Reo tidak tahu harus berbuat apa-apa
dan mendengar kalimat Reo yang terakhir, Kaname melihat Mr. Bear.
"Bear, tolong naiklah ke atas dan selamatkan mereka
semuanya." Mr. Bear awalnya ragu-ragu meninggalkan Kaname akhirnya
menganggukkan kepalanya sekali tanpa berkata apa-apa. Mr. Bear pun pergi dan
menghilang.
"Biarpun kamu menyelamatkan keluarga itu. Sia-sia
saja karena bom itu otomatis sebentar lagi," kata Reo tajam.
Kaname terkejut, "APA!"
Reo memandang kedua rekannya yang berkacamata hitam dan menganggukkan
kepalanya sekali. Mereka berdua mengerti dan membalas anggukkan kepala juga.
Kedua rekan Reo berjalan menuju Kaname dan menangkap
kedua pergelangan tangannya. "Apa-apaan ini! Lepaskan aku!" teriak
Kaname terus melepaskan diri dari genggaman kedua rekan Reo.
Melangkah maju dengan pelan menuju Kaname, Reo memegang
dagu Kaname dengan ibu jari dan berkata, "seharusnya kamu tidak boleh
melawan. Tenang saja, karena aku akan menyelamatkanmu dari bencana ini.
Jadi.." Reo memberikan elektrik shock ke dada Kaname dan akhirnya Kaname
pingsan. "..tidurlah."
Setelah Kaname pingsan, mereka membawanya keluar gedung
dan menuju ke sebuah gang yang sangat jauh dari gedung keluarga Hyuuga. Reo
menyuruh kedua rekannya menaruh Kaname di dekat sebuat tempat sampah besar.
Reo memandang Kaname yang tertidur, membungkuk dan
mengangkat dagunya, "tidurlah di sini, Sono. Sampai kamu sadar
kembali." Reo tersenyum pun pergi meninggalkan Kaname tertidur dengan
kepala tertunduk bersandar pada tembok bata.
Lantai 15
Time : 20:45:00
~ Tonouchi ~
Anggota keluarga Yukihira berada di ruang rahasia di
gedung keluarga Hyuuga. Mereka memang tidak terlalu mengenalkan diri kepada
para tamu undangan karena mereka tahu itu akan membahayakan mereka. Soalnya ada
informasi kalau anggota mafia Death ada di pesta tersebut.
Di ruangan ini hanya ada paman Izumi, bibi Yuka,
Mikan-chan, aku dan Misaki. Itu berarti anak pertama, Ren Yukihira tidak ada
karena sebelum acara malam di mulai, Ren harus pergi menjemput Kazumi Yukihira.(Bukan
Rei Serio loh tapi namanya Ren)
Perasaan tidak enak muncul di pikiran Mikan-chan yang
dari tadi bolak-balik dari kursi ke kursi yang lainnya. Hal ini menimbulkan
pikiran paman Izumi dan bibi Yuka bingung melihat tingkah laku anaknya yang
aneh dari tadi.
"Ada apa, putriku? Kenapa kamu panik? Apa tidak enak
badan?" tanya paman Izumi heran.
Mikan-chan berhenti berjalan dan memandang paman Izumi,
"tidak ayah, aku hanya bosan kok. Tidak apa-apa, "jawab Mikan-chan
berbohong.
"Jangan berbohong pada kami, Mikan. Ibu tahu kamu sedang
berbohong." Bibi Yuka menggelengkan kepalanya yang benci melihat Mikan
yang berbohong.
Sebelum Mikan-chan menjawab pernyataan bibi Yuka, ponsel
Misaki berbunyi yang tidak lain adalah Tsubasa Ando. Sepupu kami dan tunangan
Misaki.
"Halo, Tsubasa," jawab Misaki
"Misaki, kamu harus membawa mereka keluar dari
gedung ini jangan sampai orang-orang itu menemukan mereka. Mengerti!" seru
Tsubasa di jalur lain. Yang sangat kudengar jelas karena Misaki di sebelahku.
Wajah Misaki terkejut pada ucapan Tsubasa di jalur lain.
Sebelum Misaki mencari tahu apa yang terjadi, Tsubasa menutupnya.
Hal ini membuat Izumi, Yuka, Mikan dan aku menatap Misaki
bertanya ada apa.
Misaki memandang kami, "Tsubasa bilang 'kita harus
ke luar dari sini' karena mafia Death ada di sini." Misaki
melihatku lalu melihat paman dan bibi kemudian Mikan-chan.
"APA!" seru kami serempak.
Kami terkejut ucapan Misaki. Tidak mungkin ada kelompok
mafia Death ada di sini. Aku membuka pintu tetapi terkunci. Kami pun
panik semua karena pintu untuk keluar dari ruangan ini terkunci.
"Ada apa, Tono? Kenapa kamar ini di kunci? Siapa
yang menguncinya?" panik paman Izumi. Ini membuat yang lain pada
ketakutan.
"Kak Tono..." kulihat Mikan-chan terlihat
khawatir menatapku. Aku mengelus-elus rambutnya untuk bilang 'tidak apa-apa'.
Aku menatap Misaki.
"Misaki. Ayo kita cari alat di ruangan ini membuka
pintu ini."
"Iya!" balas Misaki mengangguk cepat.
"Aku ikut!" ajak paman Izumi. Aku dan Misaki
senang mengangguk setuju.
Aku dan Misaki dibantu paman Izumi mencari-cari terus
alat yang bisa menghancurkan kenop pintu ini agar mau dibuka. Hal ini, membuat
kami kewalahan. Tiba-tiba bunyi yang keras menggelegar di gedung ini. Bunyi
seperti alarm nyaring.
RRRRRIIIIIINNNNGGGG
Hal ini membuat kami semua kaget. Ini pertanda ada sesuatu
di gudang ini. Kami belum mendapatkan alat untuk membuka pintu ini. 'Kenapa hal
ini membuat kami menjadi sulit untuk mendapat ala-alat itu,' bisikku nada
kesal.
"Ibu.." tangis Mikan-chan memeluk bibi Yuka.
Bibi Yuka memeluk kembali Mikan-chan, "tenang,
sayang. Semua pasti baik-baik saja.."
Paman Izumi berlari memeluk Mikan-chan dan bibi Yuka
erat-erat melindungi mereka.
Aku terus mencari alat-alat tapi kami gagal, begitu juga
Misaki yang gagal juga. 'Oh Tuhan, tolonglah kami semua. Jangan biarkan kami
semua mati dikurung di sini. Kirimkanlah seseorang untuk membantu kami,' aku
berdoa dalam hati meminta permohonan.
BRUAKK
Tapi, kami mendengar bunyi keras di luar depan pintu.
Kami terkejut setengah mati jika itu adalah mereka. Paman Izumi memeluk bibi Yuka
dan Mikan-chan. Aku menjaga di depan untuk melindungi mereka. Pintu hancur
seketika di banting ke depan. Aku melihat bayangan kecil berwarna cokelat
berbulu.
Aku, paman Izumi, bibi Yuka, Mikan-chan dan Misaki
melihat dengan sangat terkejut pada bayangan di depan kami. Aku, Mikan-chan dan
Misaki berteriak senang dengan apa yang kami lihat. Ternyata bayangan itu
adalah...
"BEAR!"
Mikan-chan berlari memeluk Mr. Bear. Aku, paman Izumi,
bibi Yuka dan Misaki senang melihat Mr. Bear di sini. Itu berarti Kaname dan
Tsubasa pasti sudah memberitahu mereka.
Kami semua keluar, Mr. Bear di depan kami di tengah paman
Izumi, bibi Yuka dan Mikan-chan sedangkan aku dan Misaki berada di belakang
mereka.
Aku baru tahu kalau lift tidak bisa di pakai karena di
gunakan oleh tamu yang lain dan karyawan yang bekerja di genung ini. Jadi, kami
menggunakan tangga darurat.
Sesampainya kami di lantai 9 kami beristirahat karena
kelelahan gara-gara berlari. Tiba-tiba kami mendengar suara ledakan yang sangat
keras.
DUARRRGGHH
"MIKAN!"
To Be Continued...