Kamis, 28 Februari 2013

Beauty Of Destiny Chapter 1



Disclaimer: Naruto belong to Kishimoto Masashi

Warning: OOC, typo(s), deskripsi minim, AU, menjelang NHFD, short story, story is mine.

Rate: T (Teen)

Genre: Romance

Chapter 1 : Lonely



Ekspresi sedih dimiliki oleh wajah manis gadis bersurai biru panjang ini. Dia sedang melamunkan sesuatu sehingga dia tidak mengenali lingkungan yang penuh hujan deras. Hujan membangunkan semua dari lamunannya. Di pandang jalan penuh basah akibat air hujan, dia Cuma terdiam dan menunggu kapan dia akan datang. Siapa yang ditunggunya?

Gadis bernama Hyuuga Hinata takut jika dia tidak muncul di depannya. Wajahnya yang pucat penuh luka, bukan dari hati tapi dari jiwa. Jiwanya yang terluka. Sia-sia saja jika dia menunggu orang itu di tempat ini, di halte bis.

Dia bangkit berdiri, memandang hujan turun penuh deras. Hinata sendirian sangat sendirian. Dia berjalan terseok-seok. Berharap ada mau menolongnya dari hati yang kosong ini. Kasihan kamu, Hinata. Siapa orang paling kamu tunggu? Biarpun kamu menunggunya, dia tidak akan datang.
Halte bis sepi dan tidak ada orang berlalu lalang. Mereka semua memakai taksi. Pulang ke rumah sekalian mengganti baju yang basah, minum air hangat, dan tidur setelah mandi. Hinata ingin sekali melakukannya, tapi sayang sekali dia harus menunggu seorang laki-laki.

Usia Hinata 13 tahun. Usia masih belum bisa mengenal apa arti cinta kepada seorang laki-laki. Cinta dilarang di keluarganya. Mereka lebih memprioritaskan pendidikan dan menghilangkan masalah asmara. Cinta terlalu dibuat sulit padahal cinta sebenarnya bisa diketahui kalau kita bisa belajar.

“Kenapa dia belum datang?” tanya Hinata berjalan di tengah hujan. Hatinya sungguh sakit. Andai saja dia bisa bertemu, walau Cuma sekali. Dia yakin Hinata akan menemukan kebahagiaan sejati. Namun, itu Cuma mimpi. Mimpi di malam hari.

Hinata terus menunggu dan menunggu. Daripada menunggu di halte bis, lebih enak menunggu di warung makan. “Aku menunggu saja di warung bakmi. Perutku lapar sekali. Semoga saja dia belum datang. Supaya aku cepat-cepat bertemu dengannya.”

Gadis memiliki mata keperakkan seperti bulan, mendatangi warung makan. Dia tidak sadar kalau saat dia masuk, Hinata tidak melihat ada seseorang pemuda berlari menuju halte bis sambil membawa payung di genggamannya. Orang itulah orang yang ditunggu Hinata selama berjam-jam. Hinata tidak menyadari sosoknya. Dia hanya pesan, makan dan melahap semua makanannya. Jadi, pemuda itu sendirian saja di sana menunggu dan menunggu.

~ TBC ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar