Kamis, 28 Februari 2013

Life of Happiness Chapter 2

Life Of Happiness

Disclaimer: Gakuen Alice belong to Higuchi Tachibana

Warning: OOC, deskripsi seadanya. Story and OC (original character) is mine

Genre: Romance, Family, Crime and Friendship 

The Past Part II
  
Paginya
 
Festival perayaan besar-besaran merupakan festival ulang tahun persahabatan perusahaan yang ke-12 tahun telah di tunggu-tunggu oleh keluarga-keluarga besar dan masyarakat penduduk kota Tokiyo. Banyak orang-orang berdatangan ingin melihat parade festival ini. Semuanya berkumpul di alun-alun. Banyak polisi juga menjaga dan mengawasi setiap detik festival ini agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Festival ini akan berlangsung sampai sore sedangkan acara malam adalah acara salam-salaman dan acara kekeluargaan (maaf, bahasa aneh), acara malam nanti akan diadakan di gedung keluarga tamu undangan yang akan datang malam ini adalah sederet aktor-aktris terkenal di dunia, para mitra bisnis, pejabat-pejabat dan lain-lain.

Mungkin, akan ada bahaya yang mendatangi malam ini merupakan malam neraka bagi semuanya, bahaya yang tak terduga.

Dalam gedung perusahaan Nogi

Natsume, Aoi, Ruka, Yoichi dan Hotaru melihat acara festival yang diadakan oleh keluarga mereka melalui jendela kaca besar gedung tinggi. Parade-parade festival (seperti parade Gakuen Alice waktu festival Alice atau Disneyland) yang luar biasa. Mereka datang ke tempat ini tanpa Mikan karena Mikan harus dilarang datang ke tempat itu karena terlalu berbahaya.

Aoi melihat parade dari ketinggian gedung melalui kaca jendela besar. Perusahaan ini milik keluarga Nogi. "lihat di bawah sana, bukankah itu luar biasa..! Lalu, kenapa kita tidak boleh melihat dari dekat?" tatap Aoi melihat kakaknya.

"Itu tidak mungkin, Aoi-chan. Itu karena orang tua kita melarang kita ke sana," kata Ruka memberikan pengarahan.

Aoi melihat Ruka dan berkata mengagukkan kepalanya, "Oohh.. begitu, ya? Tapi, kasihan Mikan-chan tidak datang. Apa dia baik-baik saja, Ru-chan?" 

"Yahh.. dia baik-baik saja, Aoi-chan.." dengan tampang sedih Ruka membalikkan kepala menatap ke luar jendela.

Natsume pergi meninggalkan tempat mereka berdiri. Ini membuat Ruka dan Yoichi melihat Natsume dengan bingung.

"Mau ke mana, Natsume?" tanya Ruka mengikuti Natsume.

"Aku mau keluar. Bukankah mereka sudah datang, aku mau melihat mereka," balas Natsume. Membuka pintu dan keluar disusul Ruka dan Yoichi. Sedangkan, Hotaru dan Aoi hanya berdiri menatap mereka pergi.

"Kakak, kenapa sih? Setiap membicarakan Mikan-chan, kakak selalu kabur. Aku tahu kalau kakak mengkhawatirkan Mikan-chan tapi kakak harus memberikan penjelasan." Aoi bingung atas kelakuan kakaknya, Natsume. 

Hotaru menghela napas, "itu adalah wujud orang yang kesepian, Aoi-chan. Mikan yang sendirian tidak ada yang menemani hanya memiliki lima orang dewasa dan dua kakak. Mikan pasti kesepiannya sama dengan Natsume." Menatap di luar jendela dengan wajah tanpa ekspresi.

"Ooohhh.. Begitu, ya? Hotaru-chan, apa kamu mau ikut bersamaku bertemu mereka menyusul kakak, Ru-chan dan Yo-chan?" tanya Aoi menatap Hotaru.

"Tidak Aoi, aku mau di sini melihat festival," jawab Hotaru tidak berpaling dari kaca jendela.
"Baiklah.. kalau begitu aku akan pergi menyusul kakak. Bye, Hotaru-chan.." Aoi pergi meninggalkan Hotaru yang sendirian di tempat menonton parade.

Hotaru melihat bayangan Aoi pergi melalui sisi kaca jendela yang terpantul. Menghela napas sekali lagi, 'kamu tidak akan tahu Aoi tentang kakakmu karena Natsume tidak pernah menyukai Mikan. Biarpun paman Ioran dan bibi Kaoru menghubungkan mereka. Tetap saja, Natsume tidak menyukai Mikan karena Natsume menyukai Luna Koizumi sejak pandangan pertama mereka bertemu. 

Mikan-lah yang menyukai Natsume.' Memandang ke atas dengan muka kesedihan, Hotaru menutup matanya dan berbisik dalam hati, 'semoga saja Natsume bisa melihat Mikan sebagai seorang cewek yang baik bukan Mikan yang jelek. Suatu saat nanti Natsume pasti akan menyesal tidak memilihnya.'

~ Natsume ~

Aku, Ruka, Aoi dan Yoichi memasuki ruangan pribadi di mana anak-anak perusahaan keluarga datang. Aku melihat mereka semuanya kemari menghampiri kami berempat dan menyambut kami.
"Hi, guys!" seru Koko semangat, anak laki-laki berumur 8 tahun rambut pirang berantakkan dengan bola mata kuning.

"Hei.. Natsume.. Ruka.. Yoichi.. Aoi-chan.. apa kabar?" Kitsune-me, Yuu dan Mochi menyapa kami dan menghampiri kami dengan wajah tersenyum. Kitsune-me saudara kembar Koko, mata menyipit. Yuu Tobita (9 tahun), anak laki-laki berambut hijau, berkacamata dan bola mata kuning kecokelatan. Dan Mochu Mochiage (9 tahun), botak warna rambut hitam dan bola mata biru kehitaman

"Hi, kalian berempat! Sudah lama tidak ketemu," seru Anna dan Nonoko. Anna Umenomiya, anak perempuan berumur 9 tahun berambut merah muda, bola mata merah muda dan Nonoko Ogasawara, anak perempuan berumur 9 tahun berambut hitam, bola mata biru. Mereka adalah sepupu.

Ruka balas tersenyum pada mereka, sedangkan aku dan Yoichi hanya mengangguk pelan.
Sedangkan Sumire melihat keanehan di sekitar kami berempat mereka bertanya, "dimana Hotaru? Kenapa dia tidak ada?" mencari-cari di sekeliling kami.

"Hotaru-chan tidak datang ke sini karena dia masih mau melihat parade," jawab Aoi.

Sumire diam hanya bergumam 'hmm'. Lalu, dia berseru dengan gembira dan penuh semangat, "kalian sudah lihat parade tadi di luar, belum? Sangat mengasyikkan dan mendebarkan. Inilah perusahaan terbesar kita semua 'kan? Ha ha ha ha!" Sumire ketawa pada kami semua. Yang lainnya hanya terkikik geli pada sifat Sumire yang aneh.

Sumire Shouda (9 tahun), anak perempuan berambut hitam kehijauan dengan ujung rambut keriting perm, bola mata biru tua. 

Mereka semua adalah anak-anak dari sahabat-sahabat keluarga kami. Juga salah satu kesepuluh keluarga perusahaan yang terkenal di negara kami. Mereka juga adalah teman-teman kami yang berharga.

Aku berjalan masuk ke tengah ruangan untuk mencari tempat duduk sambil memasukkan kedua tanganku ke saku celana. Aku duduk di sofa diikuti ole Koko, Yoichi, Kitsune-me dan Mochu. Ruka dan yang lainnya masih membicarakan sesuatu hal tentang festival. 

"Hei, bro.. kenapa mukamu kusut sekali? Ada apa?" tanya Koko padaku. Aku tidak menjawab apa-apa. 

Koko, Kitsune-me dan Mochu hanya melihatku memandang satu sama lain lalu menggelengkan kepalanya bingung dan mereka pergi meninggalkan aku dan Yoichi. Mereka bertiga pergi ke tempat teman-teman yang lain sedang mendengarkan tentang acara festival sampai sore dan tertawa. Aku menghela napasku menatap mereka sedang tertawa keras. Aku menghela napasku sekali lagi melihat kesunyianku ini.

Yoichi menatapku dan berkata, "Ada apa denganmu, Natsume?" bingung dengan cara menghela napasku kedua kalinya. Aku tidak memandang Yoichi malah aku mengangkat kedua kakiku ke atas meja di dekatku. Yoichi berbisik di sampingku sambil memandangku, "Apa karena tidak ada Mikan.." kugelengkan kepalaku, "..atau Luna?" mataku melebar pada ucapan Yoichi. Yoichi menyeringai bersandar di sofa dekatku dan berbalik memandang teman-teman kami, "aku tahu kamu bukan memikirkan Mikan tetapi Luna. Aku tahu perasaanmu pada Luna karena dia cantik beda dengan Mikan yang culun, jelek dan bodoh. Tetapi, kamu sudah bertunangan dengan Mikan bukan dengan Luna. Kamu harus mengerti itu, Natsume." Yoichi menolehkan kepalanya menatapku lagi yang tidak merubah posisi duduknya.

"Hn.. ternyata kamu tahu perasaanku pada Luna, ya?" tanyaku memandang Yoichi lalu berbalik ke arah depan. Kulihat Yoichi mengangguk dari sisi mataku, "aku menyukai Luna sejak umur 7 tahun. Aku menyukainya atas dasar suka dan untuk Mikan suka atas dasar teman bukan sebagai kekasih."
"Jadi, kamu akan menolak pertunangan yang di buat oleh paman dan bibi, dan meminta mereka untuk menunangkanmu dengan Luna? Itu mustahil, Natsume." Aku memandang Yoichi dengan muka tanpa ekspresi. 

Dengan jengkel kumeninggikan suaraku, "tidak ada yang tidak mungkin untukku, Yoichi. Aku pasti akan meminta orang tuaku memutuskan pertunanganku dengan Mikan dan kalau sudah besar, aku akan meminta mereka untuk mengijinkanku menikah dengan Luna."

"Tapi, bagaimana perasaan Mikan? Kukira Mikan menyukaimu Natsume sebagai seorang laki-laki. Tidakkah kamu akan menyakiti perasaannya?" tanya Yoichi memandangku tidak percaya pada keputusanku. Aku dapat mendengar dari sisi sebelah mataku melihat mata kekhawatiran Yoichi kalau menyangkut Mikan.

Aku tahu kalau Yoichi menyayangi Mikan. Bukan sebagai laki-laki menyukai anak perempuan, karena Yoichi menyayangi Mikan seperti saudara sama seperti Ruka dan Hotaru.

Aku memandang kembali Yoichi dengan mendengus, "aku tidak peduli tentang perasaan Mikan. Yang kupedulikan adalah perasaan Luna karena aku sudah berjanji padanya untuk menikahinya kalau sudah besar nanti. Terserah padamu, Yoichi. Kalau kamu tidak mau menyetujuiku, terserah. Tidak usah pedulikan aku!" Aku beranjak dari tempat dudukku di sofa dan berjalan menuju pintu keluar. Kulihat teman-teman menatapku dengan pandangan bingung dan cemas. Aku tahu apa yang dipikirkan mereka karena mereka melihatku bicara keras Yoichi tadi.

Sebelum aku pergi, aku bisa mendengar Yoichi berteriak padaku, "baik! Aku tidak akan mengganggu keputusanmu! Tapi, kamu akan menyesal Natsume telah meninggalkan Mikan. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan menyesal mengambil keputusan ini, Natsume!" 

Aku membanting pintu dengan keras dan meninggalkan ruangan itu lalu pergi ke ruangan pribadiku di perusahaan Nogi. 

Ruka mengikutiku dan bertanya, "ada apa Natsume? Apa yang terjadi? Kenapa kamu Yoichi memarahimu yang berhubungan tentang Mikan?" memposisikan jalannya di sampingku menuju ruangan pribadiku. Setelah aku dan Ruka sampai ke ruangan pribadi, aku meminta Ruka menutup pintu dan menguncinya.

Ruka Nogi adalah sahabat sejatiku yang selalu menemaniku kemana aku pergi. Ibunya Ruka berteman dengan ibuku waktu kuliah dulu di French. Jadi, aku mengenal Ruka waktu umurku 3 tahun pada waktu acara ulang tahun Aoi yang pertama. 

"Bukan apa-apa, Ruka. Itu bukan urusanmu," jawabku sambil mencari tempat duduk yang nyaman. Ruka juga mengikutiku menghela napas.

"Aku tahu masalahmu Natsume sejak Luna Koizumi datang di kehidupan kita." Aku memandang Ruka dengan mata melebar. Aku tidak menyangka Ruka tahu posisi masalahku.

Aku duduk di sofa kesayanganku yang warna hitam, menyilangkan kedua kakiku dan menyandarkan kepalaku dengan kedua tanganku, "jadi, apa kamu juga tidak menyetujui rencanaku untuk menikahi Luna?" Aku menyeringai menatap Ruka.

Ruka duduk di sampingku, menaruh kelinci kesayangannya ke lantai berkarpet memulai berbicara padaku, "tidak. Hanya saja aku ingin menasehati kamu, Natsume. Janganlah kamu lupa janji kita bertiga untuk menjaga Mikan dan melindunginya. Janji kita buat bersama dengan Hotaru. Kamu tidak lupa pada janji itu 'kan, Natsume?"

"Aku tidak lupa janji itu, Ruka."

"Tapi, kenapa kamu mau membuat resiko untuk menikahi Luna? Kita belum tahu Luna itu siapa. Kita baru mengenalnya 2 tahun yang lalu. Baru beberapa hari dia tinggal di sini, dia balik ke Moscow." (maaf, negara semuanya kujadikan bahasa Inggris :D) Ruka menatapku menggelengkan kepalanya menatapku tidak percaya.

"Apakah kamu tidak tahu cinta pada pandangan pertama, Ruka?" 

Cinata pandangan pertama, cinta pandangan pertamaku adalah Luna bukan Mikan. Aku pertama kali melihat anak perempuan secantik Luna Koizumi sewaktu sebuah acara ulang tahun ayahku, Ioran Hyuuga. 

Aku belum pernah melihat anak perempuan secantik itu. Rambut merah muda panjang sebahu, wajah cantik (di sini umur 7 tahun Luna belum memakai make up yang menor), kulit mulus, bola mata ungu, dan ada tahi lalat sebelah kanan di bawah bibirnya yang merah muda. (Natsume lebay. ((^ _^)) )

Saat itulah, aku menepati janjiku padanya akan menunggunya dan menikahinya kalau sudah besar nanti. Sedangkan Mikan hanya pengganggu hidupku, sudah jelek, idiot, dan berkacamata tebal. Pertama kali aku melihat Mikan saat umurku 4 tahun, itulah pemikiranku untuknya.

Aku tidak mau menikahi dengan perempuan jelek. Bagaimana hidupku nanti menikah dengan orang jelek. Bukannya aku meragukan Mikan, hanya saja setiap kali kuminta dia membuka kaca matanya, dia selalu melarangku. Begitu seterusnya, sampai-sampai membuat sangat jengkel. 'Bilang saja, kalau wajahmu jelek.' (Dasar Natsume menyebalkan!)

"Ini bukan soal cinta pada pendangan pertama. Bagaimana perasaan Mikan yang sebenarnya padamu? Kamu akan menyakitinya secara fisik?" Ruka memandangku lagi dengan nada sedih.
Aku menoleh memandang Ruka dan berteriak, "keputusanku sudah bulat, Ruka! Jangan kamu merubah keputusanku ini!" Inilah pertama kalinya aku berteriak pada Ruka, sahabatku.

Ruka terkejut akan kata-kata keras padanya. Ruka beranjak dari sofa duduknya mengambil kelinci kesayangannya muka marah menuju pintu keluar. Membuka pintu lebar, sebelum menutup pintu Ruka berbalik memandang ke arahku, "oke, Natsume! Kalau itu keputusanmu, aku tidak akan menghalanginya. Ingatlah perkataanku ini Natsume, apabila suatu saat nanti kita sudah dewasa dan semuanya berubah. Jangan pernah menyesal!" Ruka keluar dan membanting pintu sangat keras.
"Hn. Terserah," kataku. Lalu aku pun tertidur di sofa. 'Aku takkan pernah menyesal atas pilihanku, Ruka. Tidak akan,' bisikku dalam hati.

Markas Death

"Semuanya sesuai dengan rencana, kita akan memasang bom di tempat tersebut. Kita akan membuat mereka saling menyalahkan sesuai rencana bos besar kita," tukas laki-laki rambut panjang sebahu warna pirang pada seorang laki-laki berambut berantakkan kuning dengan hitam di sisi rambut.
"itu sangat hebat, Rui. Kapan akan di mulai acara ini? Aku benar-benar ingin menyaksikan kesedihan mereka secepatnya," ucap Hayate dengan nada tidak sabar.

"Tenanglah. Tinggal menunggu perintah dari Persona baru kita akan memulainya. Benar 'kan, Yakumo?" tanya Rui menoleh laki-laki tinggi berbaju hitam di samping kirinya. Seorang laki-laki berumur 17 tahun berambut hitam dengan perban setengah menutup wajahnya.

"Hn"

Setelah itu, Reo dan Persona mendatangi mereka bertiga. Rui dan Hayate melihat dan memandang mereka dengan wajah tersenyum menyeringai. Itu artinya acara ini akan di mulai sekarang. Dan Yakumo hanya memandang dengan wajah tanpa ekspresi

"Ayo, sudah waktunya kita pergi. Tuanku sudah berpesan untuk menghancurkan tempat itu beserta isinya." Persona memandangi mereka memberikan perintah dan menyuruh mereka memanggil kelompok lainnya untuk pergi ke acara tersebut. Mereka semua mengangguk dan pergi menuju mobil van putih dan hitam yang sudah tersedia di garasi mereka.

'Sebentar lagi mereka akan mati. Mati membusuk seperti orang tua kami. Balas dendam orang tua kami akan terwujud malam ini, Hihihihi.' bisik Reo dalam hati tersenyum keji lalu menyusul mereka menuju ke mobil van diikuti oleh Persona.

Malamnya

Di gedung pribadi milik keluarga Hyuuga

Time : 20:00:00

Malam hari membuat sekelompok mobil mewah berhenti di gedung milik keluarga Hyuuga. Orang-orang berdatangan dan keluar dari mobil mereka dengan memakai gaun pesta yang glamor dan toksedo untuk acara khusus ini. Banyak wartawan memotret sederet orang-orang terkenal seperti aktris-aktor terkenal, pejabat-pejabat, dan tokoh-tokoh besar yang terkenal di seluruh dunia.
Karpet merah yang membawa mereka ke tempat acara tersebut. Ruangan ala Europe penuh dengan warna merah keemasan. Warna menunjukkan arti keberanian dan kekuasaan milik keluarga Hyuuga.

Banyak meja bundar diisikan oleh sekelompok orang terkenal. Makanan-makanan yang disajikan di meja tertentu, makanan terkenal di penjuru seluruh dunia. Pelayan-pelayan yang menghampiri meja mereka semua untuk menuangkan minuman, Chef dan Pattisier keluar dari dapur juga menyajikan makanan super mewah dan makanan penutup ke meja bundar mereka.

Ioran Hyuuga naik ke panggung dan mengambil mikrofon, "Selamat datang para undangan di acara yang sudah di tunggu-tunggu ini oleh kita semua. Acara pesta Ulang tahun Perusahaan Persahabatan yang ke-12 tahun. Terima kasih telah datang ke tempat ini. Semoga kalian bisa bersenang-senang dan menyantap makanan kami yang telah kami sediakan. Semoga kalian menyukainya. Terima kasih."

Ioran turun dari panggung dan memerintahkan para orkestra untuk membawakan lagu slow. Ioran bergabung dengan keluar-keluarga sahabatnya di sisi ruangan.

Semua para undangan tersenyum dan bertepuk tangan. Mereka menghampiri keluarga Hyuuga, Nogi, Imai, Shouda, Yome, Ogasawara, Tobita, Umenomiya, Mochiage, dan Hijiri. Para undangan bergantian menjabat tangan kesepuluh keluarga tersebut untuk memeberi selamat. 

Setelah itu, para undangan kembali ke tempat duduk mereka, ada yang juga pergi ke bar untuk pesan minuman.

Tapi, diantara para undangan ada penyusup yang siap akan menghancurkan keluarga tersebut. Dia adalah Reo Mouri seorang penyanyi terkenal sekaligus anggota mafia Death. Tidak ada yang tahu soal status Reo yang sebenarnya karena itu sangatlah rahasia dan tidak pernah dipublikasikan oleh masyarakat. Karena ada seseorang di belakang layar yang mengatur semuanya tidak lain adalah keluarga Koizumi.

Reo Mouri melihat keluarga itu menyeringai, 'jadi, keluarga itu tidak ada ya? Hmm.. berarti ada di ruangan lain di gedung ini. Aku harus menghubungi Persona bersiap-siap untuk langkah selanjutnya'. Reo mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke Persona.

'Sudah saatnya aku harus keluar dari sini untuk. Hayate, Rui dan Yakumo pasti sekarang berada di atas gedung ini untu menaruh bom itu.' Reo beranjak dari kursinya diikuti dua temannya yang merupakan kaki tangannya dan manajernya menuju pintu keluar.

Sesaat Reo keluar, ada seorang yang mengetahui rencana yang disusun Reo. Dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke sepupunya untuk menjaga mereka di ruangan tersebut. Setelah itu, dia mencari seseorang dan melihatnya yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia menghampirinya dan memberitahukan rencananya. Temannya menganggukkan kepalanya dan pergi. Dia lalu mengikuti Reo diam-diam.

Time : 20:30:00 

Di tempat rahasia di gedung ini, Hayate, Rui, Yakumo dan sekelompok orang lainnya berpakaian pelayan dan office boy menuju tempat yang telah di tuju yaitu lantai 15 gedung ini dimana keluarga itu berada. Sesuai informasi yang didapat Persona, ketua mereka.

Setelah masuk ke dalam lift barang, mereka menekan angka lantai 16 di atas lantai 15 karena mereka akan memasang bomnya di lantai tersebut.

TING

Mereka keluar dan berpencar. Rui dan Yakumo pergi ke arah sebelah kiri sedangkan Hayate dan sekelompok orang lainnya ke arah sebelah kanan. 

Hayate dan kelompoknya membawa dua tas yang berisi bom yang akan ditaruh di ruangan atas agar sejajar dengan ruangan di bawah tersebut.

Setelah selesai memasangnya, mereka menempati bom satu lagi untuk jaga-jaga di ruangan yang lain. Lalu, mereka pergi kembali ke bawah dan mengirimkan pesan ke Persona berisi huruf 'SUKSES'.

Sedangkan Rui dan Yakumo, memasang alarm waktu otomatis agar para undangan segera keluar. Jika mereka semua keluar, maka bom otomatis itu akan berfungsi. Rui memasang di setiap ruangan. Dan Yakumo memasangnya di bawah karpet merah agar tidak ketahuan. Alarm waktu akan berbunyi dengan sangat nyaring kurang lebih 30 detik lagi. 

Rui menganggukkan kepala sekali kepada Yakumo pertanda tugas selesai. Rui dan Yakumo masuk kembali ke lift barang. Rui mengirim pesan pada Persona melalui ponselnya bertuliskan 'SELESAI'. Sebelum lift sepenuhnya tertutup, di situlah Rui menyeringai keji.

Di luar gedung depan pintu Utama keluarga Hyuuga

Time : 20:45:00

Di mobil van putih, Persona mendapat dua pesan dari Hayate dan Rui. Dia tersenyum keji setelah membacanya. Lalu dia mengirim pesan ke Reo kalau rencana kedua selesai. Berarti tinggal finalnya. Sesudah final misi strategi berhasil dan berjalan lancar.

Persona menyuruh pengemudi mobil menyingkir dari tempat ini agar tidak di ketahui orang lain yang melihatnya. Dan menjemput mereka semua di gang belakang gedung ini yaitu gudang barang.
Setelah mobil van melaju pergi meninggalkan gedung, seorang laki-laki berlari keluar dari gedung dan melihat mobil van putih mencurigakan pergi. Dia mengambil ponsel di sakunya dan menelepon seseorang yaitu tunangannya, Misaki Harada.

"Halo, Tsubasa," jawab Misaki di jalur lain.

"Misaki, kamu harus membawa mereka keluar dari gedung ini jangan sampai orang-orang itu menemukan mereka. Mengerti!" Sebelum Misaki berbicara, laki-laki berambut hitam itu menutup panggilannya dan menaruh kembali ke saku celananya dan menuju ke ruang pesta. Orang itu adalah Tsubasa Ando.

Kembali di dalam gedung

Time : 21:00:00

Di ruangan tersebut, para undangan sedang bersenang-senang dengan riang di meja masing-masing, ada yang makan, ada yang berdansa dan ada juga yang berkumpul ke arah sepuluh keluarga tersebut.

RRRRRIIIIIINNNNGGGG

Suara yang mirip alarm menggelegar mengguncang para tamu undangan tersebut begitu pula dengan kesepuluh keluarga. Mereka semua kaget dan berlari keluar dari gedung. Keluarga-keluarga juga berlari keluar membawa anggota keluarga mereka untuk keluar dari gedung.

Sementara semua para undangan dan keluarga keluar dari gedung, Reo dan dua temannya pergi mencari pintu keluar untuk penyimpanan barang tetapi dihadang oleh laki-laki rambut pirang ditemani oleh beruang kecil, boneka tercanggih buatan keluarga Sono dan Ren Yukihira. Mereka berdua adalah Kaname Sono dan Mr. Bear. Akhirnya Reo dan kedua rekannya berhenti berjalan.

"Mau ke mana kalian? Apa kalian mau melarikan diri setelah kalian melakukan rencana tersebut?" tanya Kaname meregangkan kedua tangannya untuk menghalangi mereka bertiga. Sedangkan Mr. Bear memasang kuda-kuda bela diri.

"Tch. Sono, ya. Maaf saja semuanya sudah diatur dari tadi sebelum bunyi ini dimulai," ucap sang penyanyi terkenal berambut merah pada Kaname. Sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan memiringkan kepalanya. Tersenyum keji.

Mata Kaname melebar tidak percaya, "itu tidak mungkin. Itu berarti.." Kaname menggelengkan kepala tidak percaya pada kata-kata Reo.

"Yah.. Mereka semua akan mati di sana. Saat semua orang keluar dari gedung ini. Ha ha ha ha!" tawa Reo. "Oh.. Aku lupa kamar itu sekarang di kunci oleh teman-teman kami lho," kata Reo melanjutkan.

Kaname melihat tawa Reo tidak tahu harus berbuat apa-apa dan mendengar kalimat Reo yang terakhir, Kaname melihat Mr. Bear.

"Bear, tolong naiklah ke atas dan selamatkan mereka semuanya." Mr. Bear awalnya ragu-ragu meninggalkan Kaname akhirnya menganggukkan kepalanya sekali tanpa berkata apa-apa. Mr. Bear pun pergi dan menghilang.

"Biarpun kamu menyelamatkan keluarga itu. Sia-sia saja karena bom itu otomatis sebentar lagi," kata Reo tajam. 

Kaname terkejut, "APA!" 

Reo memandang kedua rekannya yang berkacamata hitam dan menganggukkan kepalanya sekali. Mereka berdua mengerti dan membalas anggukkan kepala juga. 

Kedua rekan Reo berjalan menuju Kaname dan menangkap kedua pergelangan tangannya. "Apa-apaan ini! Lepaskan aku!" teriak Kaname terus melepaskan diri dari genggaman kedua rekan Reo.

Melangkah maju dengan pelan menuju Kaname, Reo memegang dagu Kaname dengan ibu jari dan berkata, "seharusnya kamu tidak boleh melawan. Tenang saja, karena aku akan menyelamatkanmu dari bencana ini. Jadi.." Reo memberikan elektrik shock ke dada Kaname dan akhirnya Kaname pingsan. "..tidurlah."

Setelah Kaname pingsan, mereka membawanya keluar gedung dan menuju ke sebuah gang yang sangat jauh dari gedung keluarga Hyuuga. Reo menyuruh kedua rekannya menaruh Kaname di dekat sebuat tempat sampah besar.

Reo memandang Kaname yang tertidur, membungkuk dan mengangkat dagunya, "tidurlah di sini, Sono. Sampai kamu sadar kembali." Reo tersenyum pun pergi meninggalkan Kaname tertidur dengan kepala tertunduk bersandar pada tembok bata.

Lantai 15

Time : 20:45:00

~ Tonouchi ~

Anggota keluarga Yukihira berada di ruang rahasia di gedung keluarga Hyuuga. Mereka memang tidak terlalu mengenalkan diri kepada para tamu undangan karena mereka tahu itu akan membahayakan mereka. Soalnya ada informasi kalau anggota mafia Death ada di pesta tersebut.
Di ruangan ini hanya ada paman Izumi, bibi Yuka, Mikan-chan, aku dan Misaki. Itu berarti anak pertama, Ren Yukihira tidak ada karena sebelum acara malam di mulai, Ren harus pergi menjemput Kazumi Yukihira.(Bukan Rei Serio loh tapi namanya Ren)

Perasaan tidak enak muncul di pikiran Mikan-chan yang dari tadi bolak-balik dari kursi ke kursi yang lainnya. Hal ini menimbulkan pikiran paman Izumi dan bibi Yuka bingung melihat tingkah laku anaknya yang aneh dari tadi.

"Ada apa, putriku? Kenapa kamu panik? Apa tidak enak badan?" tanya paman Izumi heran.
Mikan-chan berhenti berjalan dan memandang paman Izumi, "tidak ayah, aku hanya bosan kok. Tidak apa-apa, "jawab Mikan-chan berbohong.

"Jangan berbohong pada kami, Mikan. Ibu tahu kamu sedang berbohong." Bibi Yuka menggelengkan kepalanya yang benci melihat Mikan yang berbohong.

Sebelum Mikan-chan menjawab pernyataan bibi Yuka, ponsel Misaki berbunyi yang tidak lain adalah Tsubasa Ando. Sepupu kami dan tunangan Misaki.

"Halo, Tsubasa," jawab Misaki

"Misaki, kamu harus membawa mereka keluar dari gedung ini jangan sampai orang-orang itu menemukan mereka. Mengerti!" seru Tsubasa di jalur lain. Yang sangat kudengar jelas karena Misaki di sebelahku.

Wajah Misaki terkejut pada ucapan Tsubasa di jalur lain. Sebelum Misaki mencari tahu apa yang terjadi, Tsubasa menutupnya.

Hal ini membuat Izumi, Yuka, Mikan dan aku menatap Misaki bertanya ada apa.

Misaki memandang kami, "Tsubasa bilang 'kita harus ke luar dari sini' karena mafia Death ada di sini." Misaki melihatku lalu melihat paman dan bibi kemudian Mikan-chan.

"APA!" seru kami serempak.

Kami terkejut ucapan Misaki. Tidak mungkin ada kelompok mafia Death ada di sini. Aku membuka pintu tetapi terkunci. Kami pun panik semua karena pintu untuk keluar dari ruangan ini terkunci.
"Ada apa, Tono? Kenapa kamar ini di kunci? Siapa yang menguncinya?" panik paman Izumi. Ini membuat yang lain pada ketakutan.

"Kak Tono..." kulihat Mikan-chan terlihat khawatir menatapku. Aku mengelus-elus rambutnya untuk bilang 'tidak apa-apa'. Aku menatap Misaki.

"Misaki. Ayo kita cari alat di ruangan ini membuka pintu ini."

"Iya!" balas Misaki mengangguk cepat.

"Aku ikut!" ajak paman Izumi. Aku dan Misaki senang mengangguk setuju.

Aku dan Misaki dibantu paman Izumi mencari-cari terus alat yang bisa menghancurkan kenop pintu ini agar mau dibuka. Hal ini, membuat kami kewalahan. Tiba-tiba bunyi yang keras menggelegar di gedung ini. Bunyi seperti alarm nyaring.

RRRRRIIIIIINNNNGGGG

Hal ini membuat kami semua kaget. Ini pertanda ada sesuatu di gudang ini. Kami belum mendapatkan alat untuk membuka pintu ini. 'Kenapa hal ini membuat kami menjadi sulit untuk mendapat ala-alat itu,' bisikku nada kesal.

"Ibu.." tangis Mikan-chan memeluk bibi Yuka.

Bibi Yuka memeluk kembali Mikan-chan, "tenang, sayang. Semua pasti baik-baik saja.."
Paman Izumi berlari memeluk Mikan-chan dan bibi Yuka erat-erat melindungi mereka.

Aku terus mencari alat-alat tapi kami gagal, begitu juga Misaki yang gagal juga. 'Oh Tuhan, tolonglah kami semua. Jangan biarkan kami semua mati dikurung di sini. Kirimkanlah seseorang untuk membantu kami,' aku berdoa dalam hati meminta permohonan.

BRUAKK

Tapi, kami mendengar bunyi keras di luar depan pintu. Kami terkejut setengah mati jika itu adalah mereka. Paman Izumi memeluk bibi Yuka dan Mikan-chan. Aku menjaga di depan untuk melindungi mereka. Pintu hancur seketika di banting ke depan. Aku melihat bayangan kecil berwarna cokelat berbulu.

Aku, paman Izumi, bibi Yuka, Mikan-chan dan Misaki melihat dengan sangat terkejut pada bayangan di depan kami. Aku, Mikan-chan dan Misaki berteriak senang dengan apa yang kami lihat. Ternyata bayangan itu adalah...

"BEAR!"

Mikan-chan berlari memeluk Mr. Bear. Aku, paman Izumi, bibi Yuka dan Misaki senang melihat Mr. Bear di sini. Itu berarti Kaname dan Tsubasa pasti sudah memberitahu mereka.

Kami semua keluar, Mr. Bear di depan kami di tengah paman Izumi, bibi Yuka dan Mikan-chan sedangkan aku dan Misaki berada di belakang mereka.

Aku baru tahu kalau lift tidak bisa di pakai karena di gunakan oleh tamu yang lain dan karyawan yang bekerja di genung ini. Jadi, kami menggunakan tangga darurat.

Sesampainya kami di lantai 9 kami beristirahat karena kelelahan gara-gara berlari. Tiba-tiba kami mendengar suara ledakan yang sangat keras.

DUARRRGGHH

"MIKAN!"
To Be Continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar